WAHAI ENGKAU SANG REMBULAN, MENGAPA ENGKAU TERSENYUM
SEDANGKAN AKU BERKAWAN KEPEDIHAN
HEI ENGKAU SANG PENCINTA MENGAPA ENGKAU SALAHKAN AKU, KU HANYA
MENYEBARKAN CAHAYA DIBALIK PERADUANKU
KAU TANYAKANLAH PADA SANG WAKTU
CARILAH DIA PADA ANGIN YANG BERHEMBUS KENCANG
ATAU PADA OMBAK LAUT YANG BERGELOMBANG
WAHAI ENGAKU SANG WAKTU
MENGAPA KAU BIARKAN HATIKU BERKEPING-KEPING
MENGAPA KAU HANCURKAN MIMPIKU
MENGAPA KAU BIARKAN KEBAHAGIAN MENJAUH DARIKU
WAHAI ENGAKU YANG LELAH HATI
CUKUP SUDAH KELUHAN JALANGMU
CUKUP SUDAH SUMPAH SERAPAHMU
SINGKAP SEMUA TABIR YANG MENGHALANGI JALANMU
JANGAN BIARKAN DIRIMU TERLENA
BIARKAN TAKDIRMENGGAPAIMU
BIARKAN NYAYIAN RINDU MENYAPAMU DI MENTARI PAGI
KAU CIUM AROMA KEBAHAGIAN DISANA
BELOPA, 13 AGUSTUS 2011
DARI SANG FAQIR:
GAZALBA” CHE GUEVARA”WAJUANNA
NB: Ingin aq menyampaikan sesuatu, tapijika ajal menjemputku, biarlah besokkusampaikan, karena besok tidak ada lagi rahasia, yang tinggal hanya keabadian.
Proses pergantian elite-elite daerah selalu membawa harapan dan angin segar untuk mengarah kepada suatu perubahan yang lebih baik dan konstruktif yaitu peningkatan dan perbaikan kehidupan yang layak untuk masyarakat serta pembangunan untuk mendudkung segala kegiatan sosial masyarakat.
Namun dalam perkembangannnya, terjadi berkah yang tercampur (mix blessing). Hal ini karena para elit tidak mempunyai visi yang jelas untuk membangun, kalaupun ada tentu sangat buruk. Bahkan mereka cukup puas dengan kenaikan gaji, tunjangan, subsidi ini dan itu untuk meningkatkan take home pay atau menjadi centeng bagi proyek-proyek para kroni pendukungnya.
Desentralisasi yang merupakan”keramaian politik” yang menghasilkan”fakta elite politik dan ekonomi”. Dan pada akhirnya pengusahan kagetan (dan kapiran) bermunculan, bersekutu dengan elite-elite daerah. Bahkan preman dijadikan alat dan intitusi untuk mengelemitasikan suatu keinginan segelintir elite. Dan mereka ini tak ubahnya seperti anjing piaraan.
Membangun adalah memperbaiki atau membina ke arah sesuatu yang lebih baik dengan menggunakan kerangka acuan serta perhitungan yang matang serta penentuanarah kebijakan yang mudah dicerna dan efektif sehingga mendorong ke arah kesejahteraan masyarakat.
Persoalannya sekarang ini dalah bahwa para elite daerah lebih cenderung selalu mengaktualisasikan dan mengekspresikan sesuatu kehendak dan keinginan tanpa pernah melibatkan msayarakat bawah karena merasa lebih hebat dan berkuasa. Bahkan kebijakan-kebijakan cenderung “mengebiri” masyarakat dalam berusaha, menimbulkan kecurigaan sehingga menimbulkan iklim yang tidak sehat. Dan pada akhirnya bukan kesejahteraan dan keadilan yang didapat tetapi “kesengsaraan “ yang berkelanjutan. Rakyat hanya diberi janji-janji ketika mereka hendak masuk bilik suara, setelah itu dicampakan.
Hal ini memang aneh bin ajaib, dimana seharusnya elite daerah pengabdi masyarakat bukan penguasa masyarakat atau penjual proyek. Dan lebih lucu, ketika merancang APBD, rakyat selalu dijual dan di pertaruhkan tetapi ketika proyek dilakukantidak satupun yang menyentuh masyarakat. Sungguh tragis memang, tetapi ini realitas bahwa rakyat selalu menjadi isu sentral sekaligus menjadi korban.
Para elite daerah cenderung untuk tidak peduli, pura-pura tuli apa yang terjadi dimasyarakat bahkan kebanyakan mereka bersikap paradoks yaitu bersikap abu-abu, dimana dapat pindah tergantung warna hitam atau putih yang lagi trend. Gaya mereka seperti gaya katak yaitu keatas menyembah, kepinggir menyikut, kebawah menginjak. Elite-elite daerah merupakan antek-antek kapitalis dan yang ada ada dalam mekanisme otaknya adalah proyek dan proyek tanpa pernah sekalipun memikirkan kepentingan rakyat. Dan yang terjadi percampuran antara kebingungan dan penghianatan.
Padahal yang diperlukan untuk membangun adalah mengkomunikasikan gagasan-gagasan kepada masyarakat, sehingga diharapkan tumbuhnya optimisme dan kepercayaan masyarakat, bahwa kita menuju ke arah yang lebih baik, jangan sampai masyarakat menanggung beban yang terlalu berat.
Perlunya pembaharuan berupa perubahan kecepatan transformasi manajemen, distribusi informasi dan orientasi man power ke mind power. Perubahan baik yang bersifat mendasar maupun yang bersifat teknis.
Kenapa kita menutup mata ketika tidur? Kenapa kita menutup mata ketika menangis? Kenapa kita menutup mata ketika membayangkan sesuatu? Kenapa kita menutup mata ketika berciuman? Sebab, hal-hal yang terindah di dunia ini biasanya tidak terlihat…
Ada hal yang tidak ingin kita lepaskan dan ada orang yang tidak ingin kita tinggalkan Tapi ingatlah, melepaskan bukan berarti akhir dunia, melainkan awal kehidupan yang baru…
Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis Kebahagiaan ada untuk mereka yang tersakiti Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah mencoba dan mencari Karena merekalah yang bisa menghargai betapa penting orang yang telah menyentuh kehidupan mereka…
Cinta adalah ketika kamu menitikkan air mata, tapi kamu masih tetap peduli padanya Cinta adalah ketika dia tidak mempedulikanmu, tapi kamu menunggunya dengan setia Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain, tetapi kamu masih bisa tersenyum bahagia sambil berkata, “Aku turut bahagia untukmu”... Apabila cintamu tidak berhasil, bebaskanlah dirimu Biarkanlah hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas seperti semula
Ingatlah, kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya Tapi, saat cintamu dimatikan kamu tidak perlu mati bersamanya…
Orang yang terkuat bukanlah orang yang selalu menang dalam segala hal Tetapi, mereka adalah yang orang tetap tegar ketika kegagalan merintang…
Entah bagaimana… Dalam perjalanan hidup, kamu akan belajar tentang dirimu sendiri dan suatu saat akan menyadari, bahwa penyesalan tidak seharusnya ada dalam hidupmu Hanyalah penghargaan abadi atas pilihan-pilihan kehidupan yang telah kau buat yang seharusnya ada dalam hidupmu…
Walaupun dalam urusan cinta kita jarang menang Tetapi, ketika cinta itu tulus, meskipun kelihatannya kamu kalah, tetapi sebenarnya kamu menang Karena kamu dapat berbahagia sewaktu dapat mencintai seseorang lebih daripada kamu mencintai dirimu sendiri...
Akan tiba saatnya kamu berhenti mencintai seseorang, bukan karena dia berhenti mencintai kita Melainkan karena kita sadar, bahwa dia akan lebih bahagia jika kita membiarkannya pergi Tetapi, apabila kamu benar-benar mencintai seseorang, janganlah mudah untuk melepasnya. Berjuanglah demi cintamu!!! Itulah cinta yang sejati
Lebih baik menunggu orang yang benar-benar kamu inginkan daripada berjalan bersama orang yang tersedia Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai daripada orang-orang yang berada di sekelilingmu Lebih baik menunggu orang yang tepat karena hidup ini terlalu berharga dan terlalu singkat untuk dibuang demi seseorang
Kadangkala orang yang kamu cintai adalah orang yang paling menyakiti hatimu Dan kadangkala teman yang membawamu ke dalam pelukannya dan menangis bersamamu adalah cinta sejati yang tidak kamu sadari… Bercinta memang mudah, untuk dicintai juga mudah, tetapi untuk dicintai oleh orang yang kita cintai itulah yang tidak mudah…
Bahwa, neoliberalisme telah memporak-porandakan kehidupan ekonomi dan politik Indonesia menuju kehancuran kedaulatan negara. Menyerahkan kehormatan bangsa, untuk terwujudnya neo-kolonialisme, dan hal itu jelas melanggar semangat Pembukaan Undang Undang Dasar 1945, yang sesungguhnya “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan”.
Semakin melebarnya kesenjangan ekonomi Indonesia membuktikan bahwa pembangunan ekonomi Indonesia tidak berpihak kepada rakyat, meski ekonomi Indonesia tumbuh 6,1% tahun ini. Pertumbuhan ekonomi, hanya ditopang oleh konsumsi masyarakat, terutama masyarakat kaya. Sedangkan, kontribusi industri terhadap pertumbuhan ekonomi justru turun.
Kesenjangan yang melebar ini membuktikan juga bahwa program-program pemerintah tidak mendorong kesejahteraan rakyat. Semua kegiatan itu, hanya kamuflase pemerintah yang seakan-akan mendorong kepentingan rakyat.
Krisis ekonomi keuangan di Amerika Serikat, Kawasan Uni Eropa, dan persoalan pangan di Kawasan Timur Tengah, merupakan bukti nyata bahwa sistem neoliberalisasi perlu dievaluasi dan dekonstruksikan bagi perekonomian negara dan kawasan.
Penyadaran tentang penjajahan modern (neo-kolonialisme), perlu semarakan. Agar, resesi global terhadap ketidak-keadilan global dapat dimusnakan dari muka bumi ini. Jika dunia internasional, mengkumandangkan “deterrence for nuclir”. Maka, kita juga harus mengkumandangkan ‘deterrence for Neoliberalism”
Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia merupakan wadah untuk memperjuangkan nilai bahwa neoliberalisasi dan kolonialisme telah menjadi persoalan sistemik dalam kehidupan ekonomi dan politik dunia, khususnya Indonesia. Hal itu, Perlu ada suatu tindakan yang bersifat kolektif untuk melawan rezim ideologi dunia, terlebih lagi Indonesia.
Globalisasi bukan momok tetapi merupakan kekuatan serakah dari sistem kapitalisme-liberalisme yang harus dilawan dengan kekuatan ekonomi-politik nasional yang didasarkan pada ekonomi rakyat. Semasa krismon kekuatan ekonomi rakyat telah terbukti mampu bertahan.
Ekonomi rakyat benar-benar tahan banting.
Survey Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia (Sakerti) 3 (Juni – Desember 2000) membuktikan hal itu dengan menunjukkan 70% rumah tangga meningkat standar hidupnya. Krismon memang lebih menerpa orang-orang kota dan menguntungkan orang-orang desa.
Bagi kebanyakan orang desa tidak ada krisis ekonomi. Kesan krisis ekonomi memang dibesar-besarkan oleh mereka yang tidak lagi mampu “berburu rente” (rent seekers) yang bermimpi masih dapat kembalinya sistem ekonomi “persaingan monopolistik” yang lebih menguntungkan sekelompok kecil orang/pengusaha kaya tetapi merugikan sebagian besar golongan kecil ekonomi rakyat.
Seandainya harga obat murah, biaya pelayanan kesehatan di Indonesia tentu tidak akan semahal sekarang. Ini karena komponen biaya obat bisa mencapai 45 persen dari total biaya kesehatan. Lalu, mengapa harga obat mahal? Penyebabnya adalah tidak ada subsidi sebagaimana harga bahan bakar minyak. Padahal, harga obat bisa lebih murah kalau kita mengetahui seluk-beluk pasar obat.
Berbagai faktor yang membuat harga obat mahal adalah jumlah dan jenis obat yang beredar di Indonesia terlalu banyak, baik yang menggunakan nama generik maupun nama dagang. Jumlahnya sudah ribuan. Padahal, yang diperlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan pengobatan/medik hanya 800-1.000 nama generik dan dagang.
Terlalu banyak obat
Selain itu, produsen/pabrikan obat juga terlalu banyak. Tak jarang, satu nama generik diproduksi oleh beberapa produsen dengan harga yang sangat berbeda. Meski khasiat sama, harganya bisa berbeda sepuluh kali lipat. Kalau dokter memberi kita obat yang harganya mahal, sudah tentu harga resep kita menjadi mahal. Padahal, ada pilihan obat dengan harga yang bisa jauh lebih murah dengan khasiat yang sama.
Meski demikian, ada hal-hal yang memang membuat harga obat mahal. Sebagian besar bahan baku obat masih diimpor dan tidak bebas pajak, seperti beras dan bahan pokok lain. Dengan demikian, harga obat lebih banyak ditentukan oleh harga bahan baku, kurs mata uang, dan pasar internasional. Kalau ada gejolak ekonomi yang memengaruhi perekonomian dunia, harga obat bisa naik. Misalnya kenaikan harga BBM atau krisis di suatu negara yang berdampak terhadap distribusi obat.
Selain itu, obat juga sudah menjadi komoditas atau industri yang harus memperhitungkan biaya riset, produksi, dan distribusinya. Obat adalah juga komoditas yang tak banyak diketahui oleh para konsumen atau pasien. Mereka ini, selain tak tahu (ignorance) terhadap obat yang harus dibayarnya, dalam hubungan pasien-dokter, pasien sebagai konsumen hampir selalu berada di pihak yang lemah. Terserah dokter, mau diberi obat apa.
Sebagian besar pasien meminta obat yang dianggap paling mujarab meski harganya mahal. Sementara banyak dokter tentu saja ingin memenuhi keinginan pasien. Urusan obat memang kadang tidak rasional karena yang dipertaruhkan adalah kesehatan, bahkan jiwanya sendiri. Maka, anggarannya sering tanpa batas, sampai ”kantongnya” kosong. Faktor psikologis ini yang dimanfaatkan bagian pemasaran atau detailmen obat yang mendatangi para dokter untuk menuliskan resep obat yang mereka pasarkan.
Dengan kenyataan seperti itu, yang terjadi justru keadaan yang berlebihan (overutilization). Obat yang semestinya tidak perlu—bahkan yang tidak perlu sama sekali pun—diberikan kepada pasien. Inilah yang membuat obat semakin mahal.
Kendali harga dan mutu
Dengan memerhatikan kondisi pasar obat, sebagaimana dikemukakan di atas, sesungguhnya masih ada celah untuk menurunkan harga obat. Kalau jumlah dan jenis obat yang beredar bisa ditekan sampai pada jumlah yang wajar—dengan syarat tetap memenuhi kebutuhan pengobatan/medik—harga obat bisa turun dengan mutu yang tetap terjamin. Sebab, obat yang tercantum dalam daftar obat itu adalah pilihan para ahli.
Di sinilah perlunya memiliki daftar obat atau formularium obat yang direkomendasikan untuk ditulis dalam resep sehingga tidak perlu jumlah dan jenis obat yang terlalu banyak. Kita mengenal daftar obat esensial atau formularium rumah sakit atau daftar obat yang digunakan perusahaan asuransi.
Dengan jumlah yang terbatas, apalagi kalau bisa bekerja sama dengan produsen obat, biaya produksi, pengadaan, dan distribusi obat bisa ditekan. Apalagi kalau dalam daftar obat/formularium itu memiliki harga plafon (harga tertinggi) untuk satu jenis obat yang harganya sangat bervariasi itu. Semakin besar pengguna daftar obat, semakin besar pula kemungkinan penurunan harga obat.
Pengalaman PT Askes Indonesia, dengan jumlah peserta sekitar 16 juta orang, bisa menjadi contoh. Sejak memperkenalkan Daftar dan Plafon Harga Obat (DPHO) tahun 1987, terjadi penurunan belanja obat secara bermakna. Harga setiap jenis obat dalam DPHO bisa lebih rendah 30 persen dibandingkan dengan harga pasar. Semakin besar pengguna DPHO, semakin murah harga obat. Ini karena bagi produsen/pabrikan obat (pabrik obat), jumlah pengguna DPHO merupakan captive market yang sangat bermakna tanpa kegiatan pemasaran lagi. Dengan demikian, biaya produksi dan distribusi bisa turun.
Perlunya asuransi kesehatan
Maka, seandainya DPHO diberlakukan secara nasional, harga obat pasti tak akan semahal sekarang. Namun, hal ini baru bisa terwujud kalau sebagian besar penduduk Indonesia dicakup dalam program asuransi kesehatan, sebagaimana (antara lain) program Jaminan Kesehatan yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Di sinilah manfaat setiap program asuransi kesehatan di banyak negara, yang selain menjamin biaya pemeliharaan kesehatan juga mengendalikan harga dan mutu obat. Konsumen yang masih fragmented—karena cakupan program asuransi/jaminan kesehatan masih terbatas—adalah faktor penyebab berikutnya mahalnya harga obat di Indonesia.
Dengan gambaran seperti di atas, bermimpi harga obat murah bukanlah suatu kemustahilan. Syaratnya, Indonesia harus sudah mulai bersungguh-sungguh membangun sistem asuransi kesehatan sehingga sebagian besar atau seluruh penduduk Indonesia tercakup. Tanpa program asuransi kesehatan, harga obat tidak hanya mahal, tetapi juga semakin sulit dikendalikan, baik mutu maupun harganya.
Konsumen pun akan semakin fragmented karena tidak ada lembaga/badan penyelenggara asuransi kesehatan yang memiliki posisi tawar memadai untuk mengendalikan harga dan mutu obat. Kampanye obat generik tidak akan bermakna menurunkan harga obat. Kenyataan menunjukkan, pengguna obat generik masih sangat terbatas hingga hari ini.
Tiap zaman membawa harapan yang berujung kekecewaan. Harapan biasanya ditaruh, di depan tempat paling muluk dalam ruang psikologi pribadi maupun social, dan kekecewaan menyusul sesudahnya. Ketika pada akhirnya, anyaman bagus-bagus tentang apa yang dibayangkan dan semua impian indah ternyata tercampak di batu karang kehidupan nyata yang gersang, getir, sumpek dan gelap.
Tata kehidupan kemasyarakatan dipenuhi suasana kejiwaan serba takut, skeptis, pesimis dan masyarakat kehilangan daya kritis dan nalar yang sehat. Hidup seperti telah kehilangan maknanya sendiri.
Suatu golongan tak lagi mempercayai golongan lain, orang-orang berbeda agama sulit berunding secara terbuka, karena kecurigaan dan permusuhan atas nama Tuhan, ini ironisnya, dianggap jalan suci dan mungkin dianggap kesucian itu sendiri.
Kekerasan antar pribadi, antar kelompok, juga antar kelas, berkembang , kita lalu terbiasa dengan kekerasan sebagai jalan hidup. Perbanditan, perperemanan, peras-memeras di jalanan, dimasyarakat bahkan juga dikantor-kantor, lama-lama menjadi bagian hidup normal.
Aparat keamanan tidak lumpuh, tetapi kelihatan tidak berdaya, dan hukum hanya hidup di dalam kitab-kitab dan dibagian paling idelistis dalam jiwa warga masyarakat yang masih agak waras. Perpolitikan resmi dilembaga-lembaga resmi dan diantara tokoh-tokoh resmi yang memegang kendali kekuasaan dan kotrol atas kekuasaan, terdengar cuma sayup-sayup karena sukar betul membedakan wajah politik dan wajah kriminalitas. Jalan politik dan jalan kriminil berhimpitan rapat, seolah sudah menjadi satu.
Kaum lemah yang terkena perkara, dan harus membela diri, tak tahu ke mana bertanya dan kepada siapa minta perlindungan. Mereka sukar diyakinkan untuk percaya hukum, lembaga hukum dan para ahli hukum.
Pejabat Negara yang bersumpah sebagai orang taqwa dan berjanji lurus dalam segenap sepak terjangnya, hampir semua terperosok dalam lubang kemunafikan. Dan para tokoh tak mau mengakui diri mereka penakut, diam-diam menobatkan ketakutan mereka menjadi kearifan, dan tiap hari mengelus kearifan palsu itu dengan cara seperti dukun mengelus jimatnya.
Segala corak kepalsuan kita junjung tinggi. Kejujuran dengan sendirinya kita tolak. Dikantor-kantor misalnya orang jujur dijauhi, dielakkan dan dibuang jauh-jauh karena dianggap “klilip” berbahaya. Ia tak bisa diajak bersekongkol melakukan kejahatan kolektif.
Sekarang ini merupakan zaman edan, dimana zaman yang kaum terpelajarnya kehilangan kejernihan dan sikap kritis, cenderung membebek orang lain dan malas merumus sendiri artikulasi cerdas dan otensitas pemikiran. Mereka tampak betah dengan kedangkalan cara berpikir dan jangan-jangan sudah tidak berpikir dan tak malu sana-sini mengulang lagi dan lagi gagasan yang membosankan, hingga mereka bagaikan kasetbagi mereka sendiri.
Zaman edan juga ditandai kedangkalan cara memandang Tuhan dan sikap beragama. Para ustadz, guru agama dan rohaniawan memberi contoh salah: beragama hanya berarti sibuk melayani manusia agar memenuhi standar selamat dan bahagia fi dun ya wal akhirah dan sebagian rohaniawan atau mereka yang berlagak rohaniawan, hanya sibuk memperdagangkan agama dalam kancah politik dan tanpa malu mengatasnamakan Tuhan,yang netral, tak memihak, dan tidak berkepentingan dan mengabaikan kewajiban melayani manusia. Kebanyakan kita diajarkan membaca kitab suci untuk orang mati, bukan untuk orang yang hidup yang perlu sandang pangan dan papan secara konkret, perlu dibebaskan dari kebekuan berpikir agar menjadi cerdas secara intelek,emosi maupun spiritual hingga orang yang masih hidup lalu mngubah hidup menjadi lebih dinamik dan mengubah dunia ini menjadi lebih enak dihuni bersama secara nyaman, adil dan manusiawi.
Hidup di zaman edan, Kita semua disibukkan oleh perkara-perkara teknis, mengurus kulit-kulit masalah: cara-cara, aturan, prosedur dan bukan mengurus inti masalah. Ketika membahas hukum, kita bicara pasal-pasal, ketentuan, dan konvensidan kita lupa akan ruh, atau jiwa hukum itu sendiri yaitu keadilan.Kita terkecoh, ibaratnya sibuk mencari kutu, memperdebatkan prosedur, tapi kita lupa memperjuangkan nasib rakyat yang sedang menderita.
Selebihnya, zaman edan juga ditandai ketidakberdayaan rakyat, kemiskinan, yang setiap saat terjepit, berharap datangnya ratu adil dan cargo cult yang menjawab kemiskinan mereka dibidang materi. Ini materialistis. Maka, demi zaman yang lebih cerah, cerdas dan cerdas secara spiritual, kita diminta mengubah tinggah laku tradisi dan mitos-mitos dan pandangan dunia, yang membikin kita tumpul, dungu dan linglung di zaman edan ini. Semoga kita makin banyak yang mempunyai “ wisdom”, keutamaan budi dan kebijakan.
Kata Bijak: Kehilangan milik tidak begitu penting. Kehilangan kehormatan adalah lebih parah tetapi yang celaka lagi ialah kehilangan keberanian (Goethe)