BELOPA MY CITY MY HOME I LOVE FULL
zwani.com myspace graphic comments

Jumat, 27 Mei 2011

PEREMPUANKU


PEREMPUANKU

Kecantikanmu begitu sempurna bahagiakan hatiku,

disudut bibirmu bagaikan pelangi,

bila pipi merah mawar kau sembulkan,

batu-batupun berputar-putar kegirangan

menatap matamu menyiksa batinku,

Dengan keindahanmu, aku tak mendambakan bulan

Dengan wajahmu, aku tak menyebut langit yang telah berabad-abad dan berkarat

Kau yang datang dengan suluh dan merampas hatiku,

Bawalah pula hatiku menyusulnya, jangan tangkap hatiku semata

kau yang memburamkan kehendak

membuat nadi dan jantungku berdetak sia-sia.

Maros, 5 mei 2011

Andi Gazalba Wajuanna


Senin, 28 Februari 2011

NASIB NEOLIB DI INDONESIA

Bahwa, neoliberalisme telah memporak-porandakan kehidupan ekonomi dan politik Indonesia menuju kehancuran kedaulatan negara. Menyerahkan kehormatan bangsa, untuk terwujudnya neo-kolonialisme, dan hal itu jelas melanggar semangat Pembukaan Undang Undang Dasar 1945, yang sesungguhnya “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan”.

Semakin melebarnya kesenjangan ekonomi Indonesia membuktikan bahwa pembangunan ekonomi Indonesia tidak berpihak kepada rakyat, meski ekonomi Indonesia tumbuh 6,1% tahun ini. Pertumbuhan ekonomi, hanya ditopang oleh konsumsi masyarakat, terutama masyarakat kaya. Sedangkan, kontribusi industri terhadap pertumbuhan ekonomi justru turun.

Kesenjangan yang melebar ini membuktikan juga bahwa program-program pemerintah tidak mendorong kesejahteraan rakyat. Semua kegiatan itu, hanya kamuflase pemerintah yang seakan-akan mendorong kepentingan rakyat.

Krisis ekonomi keuangan di Amerika Serikat, Kawasan Uni Eropa, dan persoalan pangan di Kawasan Timur Tengah, merupakan bukti nyata bahwa sistem neoliberalisasi perlu dievaluasi dan dekonstruksikan bagi perekonomian negara dan kawasan.

Penyadaran tentang penjajahan modern (neo-kolonialisme), perlu semarakan. Agar, resesi global terhadap ketidak-keadilan global dapat dimusnakan dari muka bumi ini. Jika dunia internasional, mengkumandangkan “deterrence for nuclir”. Maka, kita juga harus mengkumandangkan ‘deterrence for Neoliberalism”

Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia merupakan wadah untuk memperjuangkan nilai bahwa neoliberalisasi dan kolonialisme telah menjadi persoalan sistemik dalam kehidupan ekonomi dan politik dunia, khususnya Indonesia. Hal itu, Perlu ada suatu tindakan yang bersifat kolektif untuk melawan rezim ideologi dunia, terlebih lagi Indonesia.

Globalisasi bukan momok tetapi merupakan kekuatan serakah dari sistem kapitalisme-liberalisme yang harus dilawan dengan kekuatan ekonomi-politik nasional yang didasarkan pada ekonomi rakyat. Semasa krismon kekuatan ekonomi rakyat telah terbukti mampu bertahan.

Ekonomi rakyat benar-benar tahan banting.

Survey Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia (Sakerti) 3 (Juni – Desember 2000) membuktikan hal itu dengan menunjukkan 70% rumah tangga meningkat standar hidupnya. Krismon memang lebih menerpa orang-orang kota dan menguntungkan orang-orang desa.

Bagi kebanyakan orang desa tidak ada krisis ekonomi. Kesan krisis ekonomi memang dibesar-besarkan oleh mereka yang tidak lagi mampu “berburu rente” (rent seekers) yang bermimpi masih dapat kembalinya sistem ekonomi “persaingan monopolistik” yang lebih menguntungkan sekelompok kecil orang/pengusaha kaya tetapi merugikan sebagian besar golongan kecil ekonomi rakyat.

Jumat, 25 Februari 2011

Bermimpi Obat Murah

Oleh: Sulastomo

Seandainya harga obat murah, biaya pelayanan kesehatan di Indonesia tentu tidak akan semahal sekarang. Ini karena komponen biaya obat bisa mencapai 45 persen dari total biaya kesehatan. Lalu, mengapa harga obat mahal? Penyebabnya adalah tidak ada subsidi sebagaimana harga bahan bakar minyak. Padahal, harga obat bisa lebih murah kalau kita mengetahui seluk-beluk pasar obat.

Berbagai faktor yang membuat harga obat mahal adalah jumlah dan jenis obat yang beredar di Indonesia terlalu banyak, baik yang menggunakan nama generik maupun nama dagang. Jumlahnya sudah ribuan. Padahal, yang diperlukan untuk dapat memenuhi kebutuhan pengobatan/medik hanya 800-1.000 nama generik dan dagang.

Terlalu banyak obat

Selain itu, produsen/pabrikan obat juga terlalu banyak. Tak jarang, satu nama generik diproduksi oleh beberapa produsen dengan harga yang sangat berbeda. Meski khasiat sama, harganya bisa berbeda sepuluh kali lipat. Kalau dokter memberi kita obat yang harganya mahal, sudah tentu harga resep kita menjadi mahal. Padahal, ada pilihan obat dengan harga yang bisa jauh lebih murah dengan khasiat yang sama.

Meski demikian, ada hal-hal yang memang membuat harga obat mahal. Sebagian besar bahan baku obat masih diimpor dan tidak bebas pajak, seperti beras dan bahan pokok lain. Dengan demikian, harga obat lebih banyak ditentukan oleh harga bahan baku, kurs mata uang, dan pasar internasional. Kalau ada gejolak ekonomi yang memengaruhi perekonomian dunia, harga obat bisa naik. Misalnya kenaikan harga BBM atau krisis di suatu negara yang berdampak terhadap distribusi obat.

Selain itu, obat juga sudah menjadi komoditas atau industri yang harus memperhitungkan biaya riset, produksi, dan distribusinya. Obat adalah juga komoditas yang tak banyak diketahui oleh para konsumen atau pasien. Mereka ini, selain tak tahu (ignorance) terhadap obat yang harus dibayarnya, dalam hubungan pasien-dokter, pasien sebagai konsumen hampir selalu berada di pihak yang lemah. Terserah dokter, mau diberi obat apa.

Sebagian besar pasien meminta obat yang dianggap paling mujarab meski harganya mahal. Sementara banyak dokter tentu saja ingin memenuhi keinginan pasien. Urusan obat memang kadang tidak rasional karena yang dipertaruhkan adalah kesehatan, bahkan jiwanya sendiri. Maka, anggarannya sering tanpa batas, sampai ”kantongnya” kosong. Faktor psikologis ini yang dimanfaatkan bagian pemasaran atau detailmen obat yang mendatangi para dokter untuk menuliskan resep obat yang mereka pasarkan.

Dengan kenyataan seperti itu, yang terjadi justru keadaan yang berlebihan (overutilization). Obat yang semestinya tidak perlu—bahkan yang tidak perlu sama sekali pun—diberikan kepada pasien. Inilah yang membuat obat semakin mahal.

Kendali harga dan mutu

Dengan memerhatikan kondisi pasar obat, sebagaimana dikemukakan di atas, sesungguhnya masih ada celah untuk menurunkan harga obat. Kalau jumlah dan jenis obat yang beredar bisa ditekan sampai pada jumlah yang wajar—dengan syarat tetap memenuhi kebutuhan pengobatan/medik—harga obat bisa turun dengan mutu yang tetap terjamin. Sebab, obat yang tercantum dalam daftar obat itu adalah pilihan para ahli.

Di sinilah perlunya memiliki daftar obat atau formularium obat yang direkomendasikan untuk ditulis dalam resep sehingga tidak perlu jumlah dan jenis obat yang terlalu banyak. Kita mengenal daftar obat esensial atau formularium rumah sakit atau daftar obat yang digunakan perusahaan asuransi.

Dengan jumlah yang terbatas, apalagi kalau bisa bekerja sama dengan produsen obat, biaya produksi, pengadaan, dan distribusi obat bisa ditekan. Apalagi kalau dalam daftar obat/formularium itu memiliki harga plafon (harga tertinggi) untuk satu jenis obat yang harganya sangat bervariasi itu. Semakin besar pengguna daftar obat, semakin besar pula kemungkinan penurunan harga obat.

Pengalaman PT Askes Indonesia, dengan jumlah peserta sekitar 16 juta orang, bisa menjadi contoh. Sejak memperkenalkan Daftar dan Plafon Harga Obat (DPHO) tahun 1987, terjadi penurunan belanja obat secara bermakna. Harga setiap jenis obat dalam DPHO bisa lebih rendah 30 persen dibandingkan dengan harga pasar. Semakin besar pengguna DPHO, semakin murah harga obat. Ini karena bagi produsen/pabrikan obat (pabrik obat), jumlah pengguna DPHO merupakan captive market yang sangat bermakna tanpa kegiatan pemasaran lagi. Dengan demikian, biaya produksi dan distribusi bisa turun.

Perlunya asuransi kesehatan

Maka, seandainya DPHO diberlakukan secara nasional, harga obat pasti tak akan semahal sekarang. Namun, hal ini baru bisa terwujud kalau sebagian besar penduduk Indonesia dicakup dalam program asuransi kesehatan, sebagaimana (antara lain) program Jaminan Kesehatan yang termaktub dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Di sinilah manfaat setiap program asuransi kesehatan di banyak negara, yang selain menjamin biaya pemeliharaan kesehatan juga mengendalikan harga dan mutu obat. Konsumen yang masih fragmented—karena cakupan program asuransi/jaminan kesehatan masih terbatas—adalah faktor penyebab berikutnya mahalnya harga obat di Indonesia.

Dengan gambaran seperti di atas, bermimpi harga obat murah bukanlah suatu kemustahilan. Syaratnya, Indonesia harus sudah mulai bersungguh-sungguh membangun sistem asuransi kesehatan sehingga sebagian besar atau seluruh penduduk Indonesia tercakup. Tanpa program asuransi kesehatan, harga obat tidak hanya mahal, tetapi juga semakin sulit dikendalikan, baik mutu maupun harganya.

Konsumen pun akan semakin fragmented karena tidak ada lembaga/badan penyelenggara asuransi kesehatan yang memiliki posisi tawar memadai untuk mengendalikan harga dan mutu obat. Kampanye obat generik tidak akan bermakna menurunkan harga obat. Kenyataan menunjukkan, pengguna obat generik masih sangat terbatas hingga hari ini.

Minggu, 06 Juni 2010

Zaman Edan


A.S.Gazalba Wajuanna

(Kordinator Front Rakyat Luwu (FORTAL)

Tiap zaman membawa harapan yang berujung kekecewaan. Harapan biasanya ditaruh, di depan tempat paling muluk dalam ruang psikologi pribadi maupun social, dan kekecewaan menyusul sesudahnya. Ketika pada akhirnya, anyaman bagus-bagus tentang apa yang dibayangkan dan semua impian indah ternyata tercampak di batu karang kehidupan nyata yang gersang, getir, sumpek dan gelap.

Tata kehidupan kemasyarakatan dipenuhi suasana kejiwaan serba takut, skeptis, pesimis dan masyarakat kehilangan daya kritis dan nalar yang sehat. Hidup seperti telah kehilangan maknanya sendiri.

Suatu golongan tak lagi mempercayai golongan lain, orang-orang berbeda agama sulit berunding secara terbuka, karena kecurigaan dan permusuhan atas nama Tuhan, ini ironisnya, dianggap jalan suci dan mungkin dianggap kesucian itu sendiri.

Kekerasan antar pribadi, antar kelompok, juga antar kelas, berkembang , kita lalu terbiasa dengan kekerasan sebagai jalan hidup. Perbanditan, perperemanan, peras-memeras di jalanan, dimasyarakat bahkan juga dikantor-kantor, lama-lama menjadi bagian hidup normal.

Aparat keamanan tidak lumpuh, tetapi kelihatan tidak berdaya, dan hukum hanya hidup di dalam kitab-kitab dan dibagian paling idelistis dalam jiwa warga masyarakat yang masih agak waras. Perpolitikan resmi dilembaga-lembaga resmi dan diantara tokoh-tokoh resmi yang memegang kendali kekuasaan dan kotrol atas kekuasaan, terdengar cuma sayup-sayup karena sukar betul membedakan wajah politik dan wajah kriminalitas. Jalan politik dan jalan kriminil berhimpitan rapat, seolah sudah menjadi satu.

Kaum lemah yang terkena perkara, dan harus membela diri, tak tahu ke mana bertanya dan kepada siapa minta perlindungan. Mereka sukar diyakinkan untuk percaya hukum, lembaga hukum dan para ahli hukum.

Pejabat Negara yang bersumpah sebagai orang taqwa dan berjanji lurus dalam segenap sepak terjangnya, hampir semua terperosok dalam lubang kemunafikan. Dan para tokoh tak mau mengakui diri mereka penakut, diam-diam menobatkan ketakutan mereka menjadi kearifan, dan tiap hari mengelus kearifan palsu itu dengan cara seperti dukun mengelus jimatnya.

Segala corak kepalsuan kita junjung tinggi. Kejujuran dengan sendirinya kita tolak. Dikantor-kantor misalnya orang jujur dijauhi, dielakkan dan dibuang jauh-jauh karena dianggap “klilip” berbahaya. Ia tak bisa diajak bersekongkol melakukan kejahatan kolektif.

Sekarang ini merupakan zaman edan, dimana zaman yang kaum terpelajarnya kehilangan kejernihan dan sikap kritis, cenderung membebek orang lain dan malas merumus sendiri artikulasi cerdas dan otensitas pemikiran. Mereka tampak betah dengan kedangkalan cara berpikir dan jangan-jangan sudah tidak berpikir dan tak malu sana-sini mengulang lagi dan lagi gagasan yang membosankan, hingga mereka bagaikan kaset bagi mereka sendiri.

Zaman edan juga ditandai kedangkalan cara memandang Tuhan dan sikap beragama. Para ustadz, guru agama dan rohaniawan memberi contoh salah: beragama hanya berarti sibuk melayani manusia agar memenuhi standar selamat dan bahagia fi dun ya wal akhirah dan sebagian rohaniawan atau mereka yang berlagak rohaniawan, hanya sibuk memperdagangkan agama dalam kancah politik dan tanpa malu mengatasnamakan Tuhan,yang netral, tak memihak, dan tidak berkepentingan dan mengabaikan kewajiban melayani manusia. Kebanyakan kita diajarkan membaca kitab suci untuk orang mati, bukan untuk orang yang hidup yang perlu sandang pangan dan papan secara konkret, perlu dibebaskan dari kebekuan berpikir agar menjadi cerdas secara intelek,emosi maupun spiritual hingga orang yang masih hidup lalu mngubah hidup menjadi lebih dinamik dan mengubah dunia ini menjadi lebih enak dihuni bersama secara nyaman, adil dan manusiawi.

Hidup di zaman edan, Kita semua disibukkan oleh perkara-perkara teknis, mengurus kulit-kulit masalah: cara-cara, aturan, prosedur dan bukan mengurus inti masalah. Ketika membahas hukum, kita bicara pasal-pasal, ketentuan, dan konvensi dan kita lupa akan ruh, atau jiwa hukum itu sendiri yaitu keadilan. Kita terkecoh, ibaratnya sibuk mencari kutu, memperdebatkan prosedur, tapi kita lupa memperjuangkan nasib rakyat yang sedang menderita.

Selebihnya, zaman edan juga ditandai ketidakberdayaan rakyat, kemiskinan, yang setiap saat terjepit, berharap datangnya ratu adil dan cargo cult yang menjawab kemiskinan mereka dibidang materi. Ini materialistis. Maka, demi zaman yang lebih cerah, cerdas dan cerdas secara spiritual, kita diminta mengubah tinggah laku tradisi dan mitos-mitos dan pandangan dunia, yang membikin kita tumpul, dungu dan linglung di zaman edan ini. Semoga kita makin banyak yang mempunyai “ wisdom”, keutamaan budi dan kebijakan.

Kata Bijak: Kehilangan milik tidak begitu penting. Kehilangan kehormatan adalah lebih parah tetapi yang celaka lagi ialah kehilangan keberanian (Goethe)

Minggu, 02 Mei 2010

Mau Dibawa Kemana.....

Kira-kira pertanyaan pada subject diatas cukup pas untuk merekam kondisi perwajahan Indonesia saat ini yg tampak carut marut. Kehidupan sosial, ekonomi dan politik di negara kita diwarnai dengan ketidak pastian serta kemajemukan permasalahan. Pertentangan antar elite sudah begitu memuakkan masing-masing pihak sepertinya sudah melupakan esensi kehadiran mereka di pentas kepemimpinan nasional bahwa mereka hadir bukan untuk "merasa besar", bukan untuk mempertentangkan kepentingan pribadi dan melakukan pembelaan-pembelaan dengan kepanikan terbuka ! Tetapi seharusnya lebih kepada kepercayaan dan kematangan serta kedewasaan berpikir dan bersikap.

Hampir tidak pernah kita dengar lagi perdebatan yg mengedepankan kepentingan umum semuanya bersifat "self centered" orientasi pribadi dan golongan. Sementara keadilan dan penegakan hukum hanya sebatas "lips service" saja, bahkan hanya untuk muntahan peluru yg ditembakkan kepada mereka yg bersebrangan. Semangat memberantas KKN dan Korupsi bukan bagian dari perjuangan antikorupsi tetapi malah pada pembersihan barisan lawan !!! Panggung politik dijadikan sarana pembelaan diri, cuci baju dan bagi-bagi barang dagangan ketimbang penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan itu sendiri.

Capek rasanya kita menyaksikan pementasan drama tanpa ada babak akhirnya....lantas mau dibawa kemana negeri ini ????

Sabtu, 13 Februari 2010

HARAPAN

“Harapan adalah sarapan yang baik, Tetapi makan malam yang buruk.”
– Francis Bacon

Kita harus hidup dengan harapan, tetapi kita tidak bisa hidup menggantung semata pada harapan. Adalah baik untuk berharap yang terbaik. Tetapi hal itu tidak cukup. Kita tidak bisa hanya berharap – kita harus bertindak.

Sangat menyedihkan, bahwa banyak hal digantung berlebihan pada harapan – demi perbaikan nasib. Berharap yang terbaik belum menghasilkan apa-apa. Bekerja dan bertindak – disertai dengan
harapan di dalam hati – adalah hal yang membawa hasil. Kombinasi yang sempurna. Harapan tidak akan mengecewakan – selama hal itu disertai dengan tindakan dan komitmen.
Harapan tidak bisa mengganti tindakan. Kerjakan apa yang harus dikerjakan – ada atau tidak ada harapan. Harapkan yang terbaik dan kerjakan apa saja yang memungkinkan harapan itu terwujud.

Mulai hari baru anda dengan harapan, dan sambung dengan kerja dan karya. Biarkan harapan menginspirasikan anda, ketimbang membuai anda. Harapkan yang terbaik, dan bayar setiap ongkosnya. Harapan bergantung pada ANDA.

Apa yang Memotivasi Para Bilyuner..?
Pernahkah terpikir oleh anda, apa yang memotivasi para bilyuner? Bahkan jauh hari sebelum menjadi bilyuner – kekayaan yang mereka kumpulkan telah mencukupi untuk hidup mereka, anak mereka, cucu mereka, atau bahkan generasi selanjutnya.

Kebanyakan bilyuner adalah pekerja keras. Bangun pagi-pagi – lalu pergi bekerja hingga larut malam. Mereka melakukan itu – tentu bukan lagi karena sekedar mengejar uang. Lalu apa yang mereka kejar? Apakah itu keserakahan? atau kekuasaan? Mungkin. Tetapi secara umum, orang-orang pelit / serakah – jarang beroleh sukses – karena mereka tidak memberi nilai lebih pada orang lain. Kebanyakan bilyuner modern masa kini, tidak menjadi bilyuner karena kikir.

Para bilyuner termotivasi oleh cita-cita mereka. Cita-cita untuk membuat perbedaan, sehingga dunia menjadi berbeda karena mereka ADA. Motivasi ini yang memampukan mereka untuk menjadi bilyuner. Dan karena hal itu pula mereka tetap bisa bekerja keras – sekalipun telah menjadi bilyuner.

Apakah anda ingin hidup seperti seorang bilyuner? Mudah sekali. Berhentilah bekerja hanya untuk sekedar hidup – dan buat perbedaan. Sekalipun di hari terburuk

Hidup adalah kemewahan, hidup adalah kegembiraan – sekalipun di hari terburuk. Kenyataan bahwa anda saat ini hidup sehingga bisa membuat keputusan, bisa melaksanakannya, dan mampu membuat perbedaan – jauh lebih berharga ketimbang segala kesulitan dan kekecewaan yang mungkin menghadang.

Saat dunia gelap – hidup adalah alasan mengapa anda harus menjadi cahaya.

Kualitas hidup anda tidak tergantung pada apa yang anda temui, tetapi pada seperti apa anda setelah melewati segala tantangan. Hari ini adalah hari istimewa – karena anda diperbolehkan masuk ke hari ini. Ada kesempatan untuk tumbuh – dan mencapai cita-cita anda ke segala arah. Bila orang di sekitar anda pencemooh dan pendengki – anda punya kesempatan untuk membuat – bahwa KARENA ANDA – lingkungan anda bisa berubah ke arah lebih baik. Tantangan kesulitan yang ada di depan anda menyembunyikan harta karun nyata yang menunggu untuk digali.

Hati kecil anda sudah mengerti hal ini. Hidup adalah indah – bila anda menerima hidup sebagai kesempatan. Di mana pun anda, apapun yang anda hadapi, ambil keputusan untuk menikmati keindahan itu setiap hari. Dan saat anda mengambil pilihan ini – dunia di sekeliling anda pun akan menjadi lebih baik.

Sabtu, 07 November 2009

Hidup Adalah Anugerah

Pada suatu hari ada seorang gadis buta yg sangat membenci dirinya sendiri. Karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.

Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadisnya itu kalau gadisnya itu sudah bisa melihat dunia.

Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadisnya itu Yang akhirnya dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasih gadisnya itu .

Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu , ” Sayangggg … sekarang kamu sudah bisa melihat dunia. Apakah engkau mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yg selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya.

Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik ke-2 mata yg telah aku berikan kepadamu.”

* * * * *

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata- kata kasar Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.

Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu, Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum engkau mengeluh tentang suamimu, ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan untuk meminta penyembuhan sehingga suaminya TIDAK LUMPUH seumur hidup.

Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu, Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke alam kubur dengan masih menyertakan kemiskinannya.

Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu Ingatlah akan seseorang yang begitu mengharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.

Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.

Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu, pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.

Hidup adalah anugerah, syukurilah, jalanilah, nikmatilah dan isilah hidup ini dengan sesuatu yg bermanfaat untuk umat manusia.